Aku rindu saat-saat di mana pikiranku berkelana menjelajah
imajinasi.
Aku rindu saat-saat di mana otakku berputar memilih-milih
diksi terindah yang kuketahui.
Aku rindu saat-saat di mana jari-jariku menari lincah di
atas tuts keyboard berhiaskan huruf dan angka.
Dan yang terpenting, aku rindu saat-saat seperti ini.
Saat-saat di mana mengalir sebuah cerita tentang kita.
Maka kuputuskan untuk menuliskan keresahanku di sini. Dulu,
akupun mempertanyakan hal tersebut dalam hati. Ah, ya… kubilang dulu karena
bisa dibilang sekarang aku mulai menyukai sejarah. Mungkin kamu menganggapku
aneh, tak apa, aku menerimanya. Tak ada yang salah dalam rasa suka ‘kan? Seperti…
tak ada yang salah bila kamu mengidolakan ketua OSIS sekolahmu yang pintar,
kapten basket sekolahmu yang tampan, atau bahkan seseorang yang tak sengaja
kamu tabrak di jalanan saat kamu terburu-buru tadi pagi. Tak ada yang salah
dengan itu semua.
Ah, sepertinya tulisan ini mulai melenceng. Kembali ke topik
awal. Sebagian orang menganggap remeh sejarah. Kenapa kubilang sebagian? Karena
di luar sana, masih ada orang seperti aku, dan mungkin kamu, yang menyukai
sejarah.
“Ngapain belajar sejarah? Jangan mengungkit-ungkit hal yang
udah berlalu, ah.” Begitu kata mereka. Atau ada lagi, “Duh, move on dong,
jangan mikirin masa lalu mulu,” canda mereka.
Aku tidak akan mengkritik pemikiran mereka, namun untuk saat
ini, akan kuajak kamu melihat sejarah dari sudut yang berbeda.
Perang dunia terjadi 2 kali. Adakah yang ketiga? Bisa saja.
Bangsa Indonesia dijajah Belanda selama ± 3,5 abad lamanya. Akankah
kita dijajah lagi? Mungkin saja.
Rezim 32 tahun Soeharto dan tragedi Mei ’98 yang masih
membekas sampai sekarang, akankah terulang lagi?
Peristiwa G30S dan kasus pembunuhan alm. Munir yang kontroversial,
akankah terungkap kebenarannya?
Orang-orang cenderung melupakan sejarah. Mereka seolah tak
peduli akan apa yang terjadi di masa lalu.
Pernahkah terpikirkan oleh kita, sedikit saja terlintas di
kepala kita, bagaimana nasib orang tua yang kehilangan anak kesayangan mereka
saat si anak pergi berjuang di medan perang?
Bagaimana nasib anak kecil yang terbangun dari tidur
pulasnya karena mendengar rontaan kedua orang tuanya yang ditarik paksa anggota
berkerah yang menenteng senjata, dikarenakan orang tua si anak kecil dituduh
terlibat dengan PKI?
Bagaimana nasib seorang ibu yang mendapati anaknya tewas
tertembak peluru aparat keamanan saat berunjuk rasa memprotes Soeharto turun
dari kursi pemerintahan?
Ataukah, bagaimana nasib seorang istri yang mendengar kabar
suaminya tewas diracun saat perjalanan menuju Amsterdam karena si suami yang
seorang penegak HAM dianggap membahayakan Negara?
Pernahkah kita? Ah… aku bahkan merinding menulis ini.
Mungkin kita ini jenis homo
sapiens yang cenderung egois. Asalkan kita bahagia, asalkan hidup kita tak
kurang suatu apapun, kita cenderung menutup mata. Out of topic? Tidak, tidak. Percayalah hal-hal tadi saling
berkesinambungan. Agak memaksa? Kurasa tidak.
Karena dengan memahami hal-hal tadi, akupun merasa mulai
menyukai sejarah. Rasa tertarik itu muncul, secara perlahan, merasuk ke jiwa.
Bung Karno pernah berbicara dalam pidatonya. ‘JAS MERAH’
alias jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Karena…
Dengan mempelajari masa lalu, kamu akan menemukan suatu
kebenaran.
Dengan mempelajari masa lalu, kamu bisa membenahi masa kini
dan merancang masa depan.
Dengan mempelajari masa lalu, kamu bisa mengubah dunia.
Dan, dengan mempelajari masa lalu, kamu bisa memastikan tak akan
ada lagi perperangan, perpecahan, penjajahan, dan penindasan. Hingga akhirnya hanya
ada aku, kamu, kita yang cinta damai. Setujukah kamu? Kuharap begitu.
In the end, may the odd be ever in our favor :)
Komentar
Posting Komentar