Rabu malam. Besok tidak ada kelas. Memang waktu yang tepat untuk menyenangkan diri sendiri bukan? Itulah
yang kulakukan. Aku
sedang asyik bergelung di dalam selimut sambil terfokus menatap laptop, menonton serial drama favoritku yang sempat terabaikan beberapa hari yang lalu akibat
kuis maupun tugas kuliah yang
menumpuk. Sampai suara dering ponsel mengganggu fokusku.
"Kei, kamu
ada kalkulator?" tanya Arka tanpa basa-basi sesaat setelah aku menekan tombol 'jawab'.
"Ada. Kenapa?"
"Aku pinjam
ya."
"Untuk?"
"Kamu di
rumah kan? Aku ke rumahmu sekarang,” ucap Arka. Bahkan tidak mengacuhkan
pertanyaanku.
Tut... tut... tut...
Ah, Arka. Selalu seenaknya. Kuletakkan ponsel dan tatapanku beralih ke serial drama yang terus berlanjut—bahkan
belum sempat kuhentikan. Tak lama, ponselku kembali berdering. Ternyata, pesan dari Arka.
Kei,
aku di depan rumahmu.
Tanpa membalas pesan tersebut, aku segera menyambar kalkulator yang berada di meja
belajar, berjalan keluar kamar, dan terburu-buru
menuruni anak tangga—karena kamarku
terletak di lantai 2.
"Ck, lama banget sih."
Arka pura-pura kesal. Tidak kugubris dan
memilih lekas menyerahkan kalkulatorku,
"Nih."
"Makasih ya. Aku pinjam dulu," sahut Arka, menampilkan cengiran khasnya,
mengaku kalah. Mungkin karena aku bahkan tidak merespon kepura-puraannya tadi.
Ha, rasakan!
"Tapi aku mau pakai besok, Ka."
"Aku cuma pinjam
untuk kuis Statistika besok, kok. Lagipula kamu 'kan punya pacar untuk membelikanmu
lagi."
"Kenapa membahasnya sih, Ka. Aku tidak punya pacar."
"Loh, lalu cowok yang waktu
itu?"
"Aku sudah putus dengannya."
"Kenapa? Kamu udah gak
suka cowok lagi?"
"Bukan begitu Arka! Kamu ih!" ucapku
kesal. Namun tetap saja wajahku memerah malu. "Ah sudahlah, salahku juga
sih."
"Ya sudah. Eh, Kei," panggil Arka dengan
wajah serius.
"Apa?!"
sahutku lantang.
Masih kesal.
"Kalau gitu, sekarang kita bisa pacaran,"
lanjut Arka lagi.
Saat berbicara hal tersebut wajah Arka serius sekali,
namun tak lama seringai jahil terpampang di bibirnya. "Kei, bercanda. Wajahmu kenapa begitu?"
“Apaan, sih. Dasar Arka
menyebalkan! Pulang sana!”
Aku yang kesal—bercampur malu, mendorong-dorong punggung Arka keluar
pagar rumahnya.
“Iya, iya. Galak banget sih kamu,
Kei. Iya aku pulang nih. Jangan rindu,” sahut Arka jahil.
“Gak akan.”
“Ah, gak seru kamu Kei, harusnya
kamu tanya balik ‘kenapa?’ gitu.”
“Kenapa?”
“Jangan rindu. Berat. Biar aku saja.”
“Jangan rindu. Berat. Biar aku saja.”
“Ih, dasar cowok korban Dilan!
Udah ah, aku mau masuk. Jangan lupa balikin kalkulatornya!”
Kubalikkan badan membelakangi
Arka dan tergesa-gesa masuk rumah. Sudut bibirku terangkat—tersenyum-senyum
sendiri akibat tingkah Arka.
.
.
.
Drrt... drrt...
"Kei, di
mana?" ucap Arka tanpa basa-basi. Bahkan aku baru saja menekan tombol ‘jawab’.
"Di kantin fakultas, Ka."
"Aku mau balikin kalkulatormu, nih.
Kutunggu di depan kantin ya," ujar Arka dan mengarahkan mobilnya
menuju kantin fakultas Keira.
"Kenapa gak
masuk saja? Aku masih makan, Ka."
"Sebentar aja, Kei. Aku udah di depan kantin, nih."
"Hm, oke,"
sahutku. Sedikit kesal. Arka, seperti biasa selalu
seenaknya. Aku bergegas menuju ke depan kantin. Menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Arka.
Ah, bahkan ia tak repot-repot turun dari mobilnya. Akhirnya kutemukan mobil yang sudah kuhapal dari awal masuk kuliah, tepat dengan pemiliknya yang berada di
dalam mobil. Menghela napas, kuhampiri mobil
tersebut.
"Mana?" ucapku
tepat setelah Arka menurunkan kaca mobilnya.
"Nih," sahut Arka santai sembari menyerahkannya. "Makasih."
"Dasar tega. Aku udah
bilang ‘kan aku masih
makan. Kenapa bukan kamu saja yang menghampiriku, huft..." rutukku melampiaskan kekesalan.
"Ya, maaf deh. Sudah sana, lanjutkan lagi makanmu. Semangat mengawasi juniormu ujian
praktikum ya!"
"Kok kamu tahu, Ka?"
"Dasar pikun, semalam kamu yang memberitahuku ‘kan," sahut Arka. "Sudah ya, aku pulang
dulu."
Aku tak ambil pusing dan kembali
masuk ke dalam kantin lalu menuju meja yang tadi kududuki.
"Dari mana Kei?"
tanya Alya penasaran.
"Depan kantin. Arka mengembalikan ini," sahutku sambil menunjukkan kalkulator lalu kembali menyantap makanan yang tadi kutinggalkan.
"Hmm. Eh, ada post-it
di belakang kalkulatornya tuh Kei."
“Ah, iya?” sahutku sambil
membalikkan kalkulatornya. Dan benar, post-it
berwarna kuning menempel dengan cerahnya di belakang kalkulatornya.
MAKASIH YA KALKULATORNYA, CEWEK GALAK. JANGAN GALAK-GALAK SAMA ADIK KELAS,
NANTI PADA TAKUT. EH, TAPI GAPAPA SIH, BIAR ABG LABIL ITU GAK ADA YANG BERANI
DEKETIN KAMU. NANTI AKU YANG SUSAH. KAMU ‘KAN CALON PACAR AKU. —ARKA
“Apa tulisannya, Kei?” tanya Alya
penasaran. Kepalanya didekat-dekatkan kepadaku.
“Nih, baca sendiri aja,” Aku
menyerahkan post-it itu. Tidak ambil
pusing dengan tulisan Arka. “Biasa, isengnya Arka kumat.”
“Duh, si Arka ini cuek-cuek tapi
gemesin ya. Dia suka beneran sama kamu kali, Kei.”
“Haha, nggaklah. Gemesin minta
dipukul sih, iya. Udah ah, balik ke laboratorium, yuk!”
.
.
.
Apa-apaan post-it kuning itu? Norak banget sih. Kata si cewek galak, dia gak mau
pacaran sama kamu.
Sent to Arka
5 menit. 10 menit. Setengah jam. Tetap tidak ada
balasan dari Arka. Setelahnya, aku sibuk menyiapkan
ujian praktikum bersama Alya dan dua asisten dosen lainnya.
.
.
.
Matahari semakin tenggelam di ufuk barat, memancarkan efek
warna jingga kemerahan. Arka yang terlelap pun terbangun. 'Ah, jam berapa ini?'
pikirnya dalam hati
lalu menoleh ke jam di samping tempat tidurnya.
"Sial, aku tertidur lama sekali. Bahkan sekarang
sudah jam 5 sore," rutuk Arka kesal. Memeriksa ponselnya, Arka mendapati
sebuah pesan. Dari Keira. Arka menyeringai. Tanpa membalasnya, Arka
langsung menelpon Keira. Tipikal Arka.
“Tanya ke si cewek galak dong,
Kei. Serius dia gak mau jadi pacar aku? Bilangin, nanti nyesel loh.”
Arka. Tanpa basa-basi. Seringai
bertengger di bibirnya. Berusaha menahan tawa. Aku hanya berdeham saja. Arka
berkata lagi, “Tunggu dua tahun lagi lalu jadi pacarku ya, Kei?”
“Ngaco kamu, ah. Tega banget aku disuruh nunggu selama itu.”
“Kamu ‘kan udah terbiasa menunggu,”
ucap Arka tanpa menyembunyikan tawanya lagi. Arka selalu senang bila berhasil
mengerjaiku. Salah satunya ya saat ini.
“Apaan sih, Ka. Resek kamu. Aku gak akan nungguin kamu,” balas Keira
kesal.
“Hahahaha ... Eh Kei,”
“Apa?!” sahut Keira, masih kesal.
“Aku serius,” ucap Arka, tapi
nada bicaranya masih tengil.
“Serius udah bubar kali, Ka.”
“Hahahaha ... Cewek galak bisa
ngelucu juga ya ternyata,” sahut Arka sambil tertawa-tawa.
Ah, lebih baik seperti ini ‘kan?
Di saat aku tidak tahu apakah Arka sedang serius atau bercanda, lebih baik seperti
ini ‘kan? Mengalihkan topik pembicaraan. Aku belum siap keluar dari zona
nyamanku. Kalau seperti ini, semua akan baik-baik saja ‘kan?
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi menulis cerita pendek yang diadakan oleh Storial, Nulisbuku, dan Giordano #ALLisWELL
Komentar
Posting Komentar