Tajam. Dingin. Namun hanya kaulah yang membuatku hangat. Aneh memang. Setiap jari-jariku bersentuhan denganmu, kurasakan emosi lain yang bergejolak di jiwaku. Berlebihan memang, tapi memang begitulah adanya. Kalian sering mencemoohku. Freak, itulah kata yang sering keluar dari bibir kalian saat mengomentariku. Kalian hanya tak tahu. Kalian juga takkan mengerti rasa ini. Aku seolah mendapat energi berlebih saat kau ada. Kepercayaan diriku bertambah seiring kau yang senantiasa tak jauh dariku. Mungkin aku bisa depresi apabila kau benar-benar menghilang dari hidupku. Pernah suatu kali kau hampir hilang, aku panik, otakku seakan tak bisa bekerja-sama lagi denganku. Jiwaku seakan terbang jauh entah kemana, meninggalkanku sendiri dengan rasa penuh sesal karena tak mampu menjagamu. Bahkan aku hampir menangis, sungguh cengeng. Tetapi... jujur kukatakan, aku sungguh merasa kehilangan. Kau bagaikan suatu bagian penting dalam hidupku. Disini, di dadaku, rasanya hampa saat kau tak ada. Aku terlanjur mengagumimu. Menyayangi sepenuh hati. Masa-masa yang telah kita lewati bersama takkan mungkin terhapus dari benakku. Kau, Si Biru... teman sehidup sematiku.
.
.
.
AN: Wedeeew! Apa-apaan ini? Apa yang sudah kutulis? Huaaah T.T jadi sedih sendiri. Terlalu lebaykah? masa bodoh, aku memang terlalu bodoh untuk sekadar mengungkapkannya. Ayo tebak~ Siapakah Si Biru yang kukagumi ini? Yang berhasil jawab dengan benar nanti kubuatkan cerita super pendek loh~ Btw, ini prosa sekejap dibuat waktu bosen nungguin bel istirahat pas lagi ngerjain soal UAS bahasa indonesia.
Komentar
Posting Komentar